[Review]: Secangkir Kopi dan Pencakar Langit

Judul: Secangkir Kopi dan Pencakar Langit
Penulis: Aqessa Aninda
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: Elex Media Komputindo

Satrya nggak munafik, first impression seorang laki-laki terhadap perempuan pasti tampilan fisik dulu sebelum inner beauty. Namun teori itu terbantahkan ketika Satrya tanpa sengaja meminta bantuan Athaya, seorang IT system analyst yang begitu passionate dengan profesinya, dan juga dijaga habis-habisan sama cowok-cowok IT yang pada sayang sama ‘dedek’ mereka ini. Satrya bisa memilih cewek cantik mana saja untuk didekati—penampilan Satrya memang mampu bikin cewek-cewek melirik sekilas kepadanya. Tapi, ia memilih Athaya. Sedangkan Athaya diam-diam sudah lama memendam rasa pada Ghilman. Masalahnya… Ghilman sudah punya pacar.

Di tengah-tengah business district nomor satunya Jakarta, kopi, rokok, meeting, report, after office hour, cowok-cowok rapi dengan kemeja slim fit, kaki jenjang cewek-cewek dengan heelstujuh sentimeter, ada sepotong kisah cinta segitiga antara Athaya, Satrya, dan Ghilman. Siapakah yang akan Athaya pilih? Satrya yang menarik dan fun atau Ghilman yang baik hati sertagesture-nya yang selalu bikin jantung Athaya deg-degan? Benarkan dicintai rasanya lebih menyenangkan daripada mencintai?

***

Bercerita tentang Athaya, Ghilman, dan Satrya. Kalau saya bilang, ini adalah kisah cinta segitiga yang biasa. Tapi berhasil dieksekusi dengan baik oleh Aqessa Annida. Sepanjang membaca cerita ini saya sukses dibuat tertawa. Dunia para pria secara baik diceritakan oleh Aqessa. Jika tidak melihat nama Aqessa di sampul novel ini, pasti saya mengira penulisnya adalah seorang pria.

Jika kamu sedang bingung harus memilih antara mencintai atau dicintai? Maka membaca Secangkir Kopi dan Pecakar Langit akan membuat kamu memahami tentang pilihan tersebut. Athaya mencintai Ghilman, dan dia dicintai Satrya cowok yang nyaris sempurna. Tampang ok, kerjaan ok, cinta juga pada Athaya sayangnya ketiga hal tersebut tidak cukup untuk membuat Athaya berpaling dari Ghilman. Meskipun pada akhirnya Athaya ‘mencoba’ membuka diri untuk dicintai oleh Satrya.

It’s easier to fall in love when someone love you – hal 214.

Saya cukup menikmati novel ini. Meskipun ada beberapa bagian yang membuat saya merasa kurang nyaman. Seperti penyebab putusnya Ghilman dengan pacarnya, pertemuan keluarga Athaya dan Ghilman, dan perubahan sikap Satrya menjelang novel ini berakhir. Saya merasa hal tersebut terlalu dipaksakan. Iya, saya terlalu baper sehingga berharap endingnya Athaya bukan bersama…ah, sudahlah nanti saya dibilang spoiler.

Dicintai itu memang menyenangkan, tapi jauh lebih menyenangkan saat dicintai oleh seseorang yang mencintai kamu juga. Well, mungkin itu yang ingin disampaikan penulis. Meskipun dibuat hahahihi sepanjang membacanya tapi perasaan saya sukses dibuat campur aduk dengan hubungan cinta segitiga ini.

Kutipan favorite:

Kata orang, menggenggam cinta itu seperti menggenggam pasir, jangan terlalu erat nanti lepas – 215

Akhirnya 3 dari 5 untuk Secangkir Kopi dan Pencakar Langit.

Advertisements

2 thoughts on “[Review]: Secangkir Kopi dan Pencakar Langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s